Perkembangan

Beberapa tahun belakangan ini Yayasan Sjaki-Tari-Us semakin banyak berkembang. Perkembangan ini dapat anda baca di bagian ini.

Awal mula
Pada tahun 2005 dan 2006, sebelum memulai proyek ini, kami melakukan serangkaian penelitian mengenai sarana dan prasarana yang terdapat di Bali untuk kelompok sasaran kami, dan kebutuhan apa yang paling mendesak di Bali Dari penelitian ini kami temukan bahwa sudah ada SLB di Bali untuk anak-anak cacat mental mulai usia 7 tahun. Namun Sekolah Luar Biasa ini tidak bisa kita bandingkan dengan Sekolah Luar Biasa di Belanda tentunya. Anak-anak di SLB berada dalam kelas berisi 6 sampai 7 anak. Semua pelajaran diberikan secara klasikal. Belum ada dukungan dari dokter khusus, bimbingan logopedia, fisioterapi dan ergotherapi. Selain itu tidak ada metode dukungan komunikasi melalui bahasa isyarat, atau foto atau gambar-gambar dan pictogram. Material bermain dan belajar juga tidak digunakan. Anak-anak di SLB duduk di kelas mereka sehari-hari terutama untuk latihan menulis. Bahkan untuk anak-anak cacat mental di bawah 7 tahun belum ada sarana yang dapat mereka gunakan untuk mendapatkan pendidikan, sehingga anak-anak ini sama sekali atau hanya sedikit mendapatkan stimulasi untuk berkembang.

Permulaan Proyek
Proyek pertama yayasan Sjaki-Tari-Us dimulai dengan mendirikan kelompok bermain dan belajar untuk anak-anak cacat mental berusia 0-7 tahun dan juga untuk orang tua mereka. Di Selat (Bali Utara) diusulkan oleh Kepala Sekolah SD 5 dan Walikota untuk membangun ruangan kelas di sebuah sekolah dasar. Ini merupakan tawaran yang menarik dan unik untuk yayasan kami karena dengan demilkian anak-anak cacat mental bisa berkembang beriringan dengan anak-anak normal dan berintegrasi dengan anak-anak normal. Tanggal 14 oktober 2006 sukarelawan pertama mulai bekerja di ruangan kelas ini.

Mulai Januari 2007 kami juga memulai kelompok bermain dan belajar di Ubud di ruang tamu rumah sukarelawan karena pada saat itu kami belum memiliki ruangan. Namun tidak lama kemudian kami mendapatkan ruangan alternatif lain di daerah itu.

Bulan Mei 2007 kami mengangkat dua orang guru Bali dan awal 2008 dua orang guru tambahan untuk kelompok bermain dan belajar di kedua lokasi. Pada saat ini sekitar 30 orang anak mengunjungi kelompok bermain dan belajar yayasan kami. Dan sekitar 10 anak telah melanjutkan jenjang pendidikan mereka ke SLB.

Program Teach The Teacher
Selain kelompok bermain dan belajar, program Teach The Teacher juga telah dimulai. Sukarelawan kami memberikan kursus dan informasi mengenai fase perkembangan anak-anak, Down Syndrom, Autisme, Epilepsi, Komunikasi Total, bagaimana menggunakan material perkembangan dan banyak tips praktis dalam membimbing anak-anak cacat mental untuk orang tua mereka.
Guru-guru yang bekerja di kelompok bermain dan belajar dibimbing dan dilatih sehingga mereka dapat berfungsi secara professional di kelas mereka, sehingga pada saatnya mereka dapat mengajar di kelas ini tanpa bantuan sukarelawan dari Belanda.
Yayasan kami juga memiliki hubungan kerjasama dengan SLB Gianyar (yang terletak di sekitar Ubud) dan SLB Singaraja (yang terletak di sekitar Selat) sehingga kami dapat membagi informasi dengan sekolah-sekolah tersebut. Kadang-kadang pelaksanaan workshop dan kursus untuk guru-guru di sekolah tersebut pada prakteknya sulit untuk direalisasikan, terutama karena kurangnya waktu dan sedikitnya tenaga guru disana. Namun kami akan terus mencoba untuk memberikan bantuan bagi sekolah-sekolah yang membutuhkan.

Tahun 2007 yayasan kami membeli 2 kendaraan. Banyak anak murid kami yang memiliki kesulitan untuk datang ke kelompok bermain dan belajar karena masalah transportasi. Dengan kendaraan dari yayasan kami, anak-anak dan orang tua mereka dapat di antar jemput. Di Selat 6 orang anak yang ingin melanjutkan jenjang pendidikan mereka ke SLB, terancam tidak dapat pergi ke SLB karena tidak ada sarana transportasi. Itu sebabnya kami memperluas pelayanan bantuan kami dengan memberikan sarana transportasi ke SLB (orang tua ikut membantu membayar biaya bensin).

Pada saat ini di Ubud kami sibuk melakukan penelitian kebutuhan dan kemungkinan untuk mendirikan pusat aktivitas harian untuk remaja cacat mental. Kami menemukan fakta bahwa apabila anak-anak ini menyelesaikan pendidikan mereka di SLB, tidak ada tempat lain untuk mereka selain di rumah. Apa yang dapat mereka lakukan? Apa kebutuhan mereka? Apa yang dapat kami berikan dari Yayasan Sjak-Tari-Us? Dan apa yang dapat remaja ini berikan untuk yayasan kami? Kami sibuk mencari jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan ini. Proyek baru penuh tantangan.

Lokasi

Bulan oktober 2007 kami mendapatkan tawaran sebuah gedung besar di pusat kota Ubud. Lokasi sempurna yang memiliki banyak potensi.

Juga di utara Bali kami saat ini sibuk mencari kemungkinan-kemungkinan baru. Kami berharap dalam waktu dekat dapat membuka lokasi ketiga di Singaraja. Singaraja adalah kota yang cukup besar dan terletak lebih sentral dibandingkan Selat. Kami berharap dapat lebih banyak menolong di Singaraja. Kemungkinan pendidikan lanjutan ke SLB Singaraja juga menjadi lebih mudah. Ini adalah alasan kami untuk juga membuka lokasi baru di Singaraja.